Belajar Pengelolaan RS Ke Negeri Gajah Putih

Perintah menimba ilmu bagi pengurus Majelis PKU dan Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah/ Aisyiyah di Jawa Timur, nampaknya bukan hanya berlaku ke negara China, tapi juga ke Thailan. Seperti pada 22-25 November 2014 lalu, sebanyak 50 orang studi banding pengelolaan rumah sakit (RS) ke Vetjhani Hospital, Thailan. Berikut oleh-oleh yang ditulis dr Erika Widayanti Lestari MMR, Direktur RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri, untuk MATAN.

***

Mengapa kami harus ke Thailan? Karena Thailand adalah negara yang pertama memotori konsep hospital tourism. Vetjhani Hospital yang dikenal sebagai salah satu RS terbesar dan termodern di Asia Tenggara telah mempraktikkan konsep tersebut.

Ditemani dua guide lokal muslim, Emi dan Sham, kami menuju RS yang terletak di 1 Lat Phrao road Kota Bangkok itu. Setelah disambut hangat oleh Manager Vejthani Hospital, kami dipersilakan memasuki rumah sakit yang nyaman, bersih dengan penataan ruangan cukup praktis. Sejumlah fasilitas menghiasi rumah sakit, seperti starburk, cafe and resto serta mini market menjadi satu kesatuan dalam fasilitas rumah sakit ini.  

Begitu kami memasuki ruang loby, kami merasa seperti berada di hotel bintang lima. Penataan bangunan, pembagian ruang, papan informasi serta fasilitas lain tertata cukup artistik.

Sejurus kemudian kami memperoleh kuliah singkat tentang bagaimana pengelolaan Universal Health Coverage di Vetjhani Hospital, Manajemen Strategik yang diterapkan dan sistem jaringan yang dibangun baik internal maupun eksternal.

Acara bechmarking semakin akrab saat tenaga marketing membawa kami ke meeting room dalam rangkaian introduction program. Kami disuguhi tayangan video profil yang mengambarkan produk pelayanan dan fasiltas unggulan yang dimiliki.

Rumah sakit swasta yang berdiri pada 1994 ini lulus akreditasi JCI (Join Comission International) tahun 2013. RS ini memiliki layanan rawat jalan 44 spesialis dan sub spesialis. Memiliki kapasitas 500 tempat tidur. Berdiri di atas bangunan 11 lantai dan pada setiap lantai memiliki bagian departemen tersendiri. Menjadikan kami lebih tertarik pada manajemen Vejthani Hospital ini, setiap layanan departement atau instalasi di rumah sakit ini, menjalankan pelayanan secara komprehensif dan terintregasi dalam satu lingkup unit area tersendiri.

Dalam kesempatan itu, ketua rombongan kami, dr Sholihul Absor MARS diberi waktu untuk presentasi. Ketua MPKU PWM Jatim itu menyampaikan profil jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah/Aisyiyah se-Jawa Timur.

Vetjhani Hospital boleh dibilang sebagai rumah sakit swasta yang cukup komplet, dengan 250 tenaga dokter, 300 perawat dan 700 karyawan non pelayanan. SDM-nya profesional, kompeten dan santun melayani. Vetjhani memiliki sistem informasi manajemen yang cukup canggih. Bentuk sistem pelayanan universal coverage yang di-handle langsung pemerintah Thaliland berbeda dengan yang diterapkan di Indonesia. Yakni, semua biaya dibayar dengan tarif yang sama tanpa membedakan tipe dari rumah sakit.

Selain masyarakat lokal yang berkunjung ke Vetjhani Hospital, banyak pula pasien international yang berobat di sini. Rupanya pihak Vethani menerapkan strategi marketing dengan mendirikan sejumlah kantor cabang di Timur Tengah, dan menerapkan konsep pengobatan halal, bekerjasama dengan Pusat Laboratorium Halal milik pemerintah yang dikomandani Winai Dahlan (salah satu cucu pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan).

Strategi penerapan pengobatan halal ini adalah wujud perhatian Raja dan Pemerintah Thailand yang mampu menangkap peluang pasar. Meski Thailand mayoritas penduduknya beragama Budha, tapi pemerintah memberikan jaminan produk, bahkan pengobatan halal agar wisatawan dunia, khususnya wisatawan muslim tidak enggan datang ke Thailand.

Selepas acara sharing dengan Manajemen Vethani Hospital, Dinas Kesehatan Bangkok dan Pengelola Universal Health Coverage Bangkok (Indonesia-BPJS), kami diajak meninjau ruangan dan fasilitas yang dimiliki rumah sakit ini.

Dimulai dengan meninjau Suit Room dengan tarif Rp 3-4 juta rupiah semalam, yang fasilitas dan struktur ruangannya tidak terlalu istimewa dan hampir sama dengan rumah sakit kami. Bedanya, fasilitas asuhan pelayanan yang bersifat one stop service.

Kemudian kami memasuki ruangan dalam satu lantai khusus untuk Executive Health Center, yang merupakan ruang layanan informasi produk dan tempat handling complain. Pada tempat pendaftaran, dipisahkan antara pasien umum dan pengguna asuransi. Selain ada petugas khusus melayani pendaftaran untuk mendata pasien pada billing, berada tidak jauh dari lokasi luar meja, terdapat petugas yang membantu mempercepat pengisian dan memberikan informasi yang harus dilengkapi pasien maupun keluarga pasien pada ruang pendaftaran.

Dari kunjungan ini, dapat diambil beberapa pelajaran. Pertama, RS adalah perusahaan jasa, yang kuncinya harus mengedepankan kualitas layanan. Pengunjung mulai masuk sampai pulang harus mendapatkan service excelent. Beberapa komponen mulai dari struktur, proses yang cepat, hingga fasiltas pendukung lain yang menjadikan suasana nyaman. Dengan mengedepankan kualitas layanan maka yakin akan mampu memenangkan persainagn global.

Kedua, untuk mewujudkan kualitas layanan, RS harus menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi, memiliki Skill/ keterampilan yang bagus di bidangnya, memiliki attitude yang baik/Islami. Selain itu harus didukung dengan beberapa pelatihan-pelatihan penunjang ke depan. Ketiga, menyiapkan sistem informasi manajemen baik internal maupun eksternal yang akan mendukung layanan sebuah rumah sakit.

Jika SDM dan sistem rumah sakit sudah dibangun dengan kuat, selanjutnya tak kalah pentingnya adalah membuat strategi marketing yang baik. Jaringan rumah sakit Muhammadiyah Jawa Timur harus bisa menangkap peluang apa pun itu.

Menurut hemat saya hospital tourism sudah saatnya diterapkan di lingkungan Muhammadiyah, termasuk layanan Islaminya akan memperkuat karakter sekaligus menjadi differensiasi. Semoga! []