TIPS MEMBAGI INSENTIF KARYAWAN

TIPS MEMBAGI INSENTIF KARYAWAN

TIPS MEMBAGI INSENTIF KARYAWAN

Banyak orang mengira ilmu pemasaran hanya ngurusi bagaimana menjual barang atau jasa, sehingga di rumah sakit sering bagian pemasaran di tempatkan dalam struktur tersendiri yang hanya ngurusi promosi. Padahal tidak demikian,  ilmu pemasaran sangat luas pemahamannya. Inti pemasaran adalah bagaimana melakukan pertukaran nilai antar stake holder yang saling menguntungkan. Dalam konteks ini tidak hanya pertukaran nilai antara rumah sakit dan pasien saja, tapi juga antara rumah sakit dengan karyawan, dan antara rumah sakit dengan pemilik. Maaf saya agak melebar ceritanya tidak langsung membahas tip membagi insentif, supaya jelas filosofinya dan tercapai maksud dan tujuan membagi insentif.

BPJS, MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN? ANNUAL MEETING MMR FKUB

BPJS, MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN?
ANNUAL MEETING MMR FKUB

 

Tanggal 12 november 2015 saya mendapat kesempatan berbagi pengalaman di forum pertemuan tahunan Magister Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (MMR FKUB) di Malang. Saya diminta untuk mempresentasikan bagaimana pengalaman rumah sakit swasta menjadi provider BPJS, menguntungkan atau merugikan?.

Di hadapan sekitar 500 peserta yang hadir saya sampaikan bahwa hingga saat ini menjadi provider BPJS masih menguntungkan, meskipun prosentase keuntungan semakin menipis. Dalam keadaan demikian rumah sakit dituntut untuk adaptif terhadap perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pengelola BPJS. Mengapa demikian?, karena kebijakan BPJS sangat kental aroma politik yang memiliki sifat berubah ubah, tergantung sikap pemerintah. Bila tidak mampu beradaptasi maka kerugian akan mengancam.

 

DI BALIK HALAL HARAM BPJS

DI BALIK HALAL HARAM BPJS

 

Beberapa saat lalu kita dikagetkan dengan berita di koran dan media sosial bahwa BPJS difatwakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saya sendiri menerima kabar ini awalnya dari group Whatsapp (WA), semula kaget tapi dalam hati tidak percaya dengan berita ini, walaupun saya bukan ahli agama. Kenapa?, pertama, tidak mungkin MUI segegabah itu mengeluarkan fatwa yang menyangkut hajat hidup orang banyak tanpa ada solusi. Ke dua, sudah banyak orang yang merasakan manfaat BPJS, bahkan pasien miskin yang sakit parahpun jadi sembuh karena ditanggung BPJS, tidak mungkin hukum agama mengharamkan hal yang positif bagi umatnya. Ke tiga, saya dapat info informal bahwa pak Din Syamsudin selaku ketua MUI sebenarnya tidak tahu dengan keputusan itu karena sibuk menyiapkan Muktamar Muhammadiyah. Ternyata berita terakhir menyebutkan bahwa sama sekali tidak ada kata haram dalam keputusan MUI, hanya semacam saran dan masukan buat BPJS.

Saya tidak bermaksud membahas apakah BPJS haram ataukah halal karena bukan kompetensinya, lagi pula sudah ada pernyataan resmi bahwa BPJS tidak haram, tapi mencoba menganalisis mengapa sampai timbul kabar hoax atau bias?. Anilisis sederhana saya, ada aksi ada reaksi. Dalam pandangan saya sikap MUI yang di blow up media merupakan reaksi atas superioritas BPJS dalam memperlakukan peserta dan provider, baik itu klinik, puskesmas, maupun rumah sakit. Statement yang muncul di beberapa media tidak lebih sekedar ungkapan ketidaksukaan atau kritik keras dari beberapa pihak kepada BPJS yang akhir akhir ini sangat dominan dalam mengelolaan dana negara dan masyarakat.

Selamat Datang..

Selamat Datang di Hospital Marketing Observer

Perkembangan jaman telah mengubah tatanan kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perkembangan teknologi memudahkan manusia dalam segala urusan. Perubahan politik meningkatkan kesadaran masyarakat akan haknya. Perbaikan ekonomi meningkatkan kemampuan daya beli dan memilih produk yang mereka butuhkan. Budaya yg berkembangpun tidak luput dari jamahan perubahan, perilaku masyarakat beralih menjadi semakin permisiv dan individual.

Rupanya perubahan ini sampai juga kepada dunia medis yang saya geluti. Hubungan pasien dengan dokter tidak lagi berupa hubungan saling percaya, tetapi beralih menjadi hubungan transaksional layaknya praktik bisnis pada umumnya. Pasien bebas memilih akan berobat kemana, si dokter memberikan pelayanan untuk memuaskan pasien. Dan kemudian pasien membayar biaya pengobatan yang dia terima. Wal hasil, dokter jual, pasien beli. Kalau tidak puas ya komplain seperti yang terjadi pada kasus Prita vs omni hospital.

Persaingan merebut pasien antar rumah sakit semakin tak terelakkan. Maka muncullah praktik praktik pemasaran tanpa mempedulikan etika kedokteran, sebagaimana sumpah dokter yang diucapkan saat mau lulus dokter. Dari sinilah saya tertarik untuk belajar, kemudian mengamati tingkah laku kegiatan pemasaran di rumah sakit, dan disajikan di BLOG ini. Dengan harapan agar masyarakat tidak terperosok akibat tergiur dengan trik pemasaran yang dilakukan rumah sakit. Saya akan mencoba berbagi tentang hal itu di BLOG ini kepada semuanya.