Prof Rasjidi dan Remas

PWMU.CO – Almarhum Prof Dr HM Rasjidi suatu hari diundang remaja masjid (remas) untuk memberi ceramah agama. “Anak-anakku, saya bangga kalian mengadakan acara pengajian ini. Tapi saya ingin bertanya hal sederhana. Dan jawablah dengan jujur!” kata Rasjidi. Siapa dari kalian yang setiap hari baca Alquran? Silakan acungkan tangan!” tanya beliau. Berapa remaja masjid yang ngacungkan tangan?

IMM Gresik Pertegas Gerakan Intelektual

PWMU.CO – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Gresik menggelar Musyawarah Cabang (Musycab) ke-X dengan tema “Strategi Dakwah Kader Intelektual Muda Dalam Membangun Peradaban Bangsa untuk Generasi Berkemajuan”. Musycab dihadiri dan dibuka langsung oleh Bidang Organisasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Jawa TImur Moufti Asidiqi di aula Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Kamis (24/3). Ketua

Pekan ini Musyda Aisyiyah se-Jatim Tuntas

PWMU.CO – Serangkaian perhelatan Musyawarah Daerah (Musyda) Aisyiyah di Jawa Timur, hingga minggu ke-4 bulan Maret (24/3), tinggal menyisakan tiga  Daerah, yakni  Aisyiyah Lamongan, Kabupaten Probolinggo maupun Magetan. Ketiga Musyda Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) tersebut dijadwalkan terselenggara pada akhir pekan besok, Sabtu dan Minggu (27-28/3). Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur Siti Dalilah Candrawati

3 Tokoh Muhammadiyah Jatim yang Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit Pemerintah

PWMU.CO – Muhammadiyah sejak kelahirannya dikenal sebagai gerakan yang konsen pada dunia pendidikan dan kesehatan. Bahkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sudah mulai mendirikan sekolah setahun sebelum mendeklarasikan Muhammadiyah itu sendiri. Barulah setelah itu, berbagai sekolah milik Persyarikatan dengan modernisasi metode dan sarana pembelajaran tersebar ke seantero Nusantara. Pada saat bersamaan dengan menjamurnya amal usaha

BPJS, MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN? ANNUAL MEETING MMR FKUB

BPJS, MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN?
ANNUAL MEETING MMR FKUB

 

Tanggal 12 november 2015 saya mendapat kesempatan berbagi pengalaman di forum pertemuan tahunan Magister Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (MMR FKUB) di Malang. Saya diminta untuk mempresentasikan bagaimana pengalaman rumah sakit swasta menjadi provider BPJS, menguntungkan atau merugikan?.

Di hadapan sekitar 500 peserta yang hadir saya sampaikan bahwa hingga saat ini menjadi provider BPJS masih menguntungkan, meskipun prosentase keuntungan semakin menipis. Dalam keadaan demikian rumah sakit dituntut untuk adaptif terhadap perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pengelola BPJS. Mengapa demikian?, karena kebijakan BPJS sangat kental aroma politik yang memiliki sifat berubah ubah, tergantung sikap pemerintah. Bila tidak mampu beradaptasi maka kerugian akan mengancam.

 

DI BALIK HALAL HARAM BPJS

DI BALIK HALAL HARAM BPJS

 

Beberapa saat lalu kita dikagetkan dengan berita di koran dan media sosial bahwa BPJS difatwakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saya sendiri menerima kabar ini awalnya dari group Whatsapp (WA), semula kaget tapi dalam hati tidak percaya dengan berita ini, walaupun saya bukan ahli agama. Kenapa?, pertama, tidak mungkin MUI segegabah itu mengeluarkan fatwa yang menyangkut hajat hidup orang banyak tanpa ada solusi. Ke dua, sudah banyak orang yang merasakan manfaat BPJS, bahkan pasien miskin yang sakit parahpun jadi sembuh karena ditanggung BPJS, tidak mungkin hukum agama mengharamkan hal yang positif bagi umatnya. Ke tiga, saya dapat info informal bahwa pak Din Syamsudin selaku ketua MUI sebenarnya tidak tahu dengan keputusan itu karena sibuk menyiapkan Muktamar Muhammadiyah. Ternyata berita terakhir menyebutkan bahwa sama sekali tidak ada kata haram dalam keputusan MUI, hanya semacam saran dan masukan buat BPJS.

Saya tidak bermaksud membahas apakah BPJS haram ataukah halal karena bukan kompetensinya, lagi pula sudah ada pernyataan resmi bahwa BPJS tidak haram, tapi mencoba menganalisis mengapa sampai timbul kabar hoax atau bias?. Anilisis sederhana saya, ada aksi ada reaksi. Dalam pandangan saya sikap MUI yang di blow up media merupakan reaksi atas superioritas BPJS dalam memperlakukan peserta dan provider, baik itu klinik, puskesmas, maupun rumah sakit. Statement yang muncul di beberapa media tidak lebih sekedar ungkapan ketidaksukaan atau kritik keras dari beberapa pihak kepada BPJS yang akhir akhir ini sangat dominan dalam mengelolaan dana negara dan masyarakat.